oleh

1 Juta Warganya Berunjukrasa, Presiden Chile Ganti Semua Menterinya

SANTIAGI DE CHILE – Pemerintah Chile melakukan reshuffle besar-besaran dalam kabinet pemerintahannya, Sabtu (26/10/2019).

Langkah tersebut diambil Presiden Chile Sebastian Pinera menyikapi aksi unjuk rasa yang digelar secara masif oleh lebih dari 1 juta warga negara itu sejak sepekan lalu.

“Saya meminta semua menteri untuk mundur demi bisa membentuk sebuah pemerintahan yang baru, dan juga bisa memenuhi dari permintaan-permintaan baru ini,” kata Pinera dalam pidato kenegaraan seperti dilansir AFP.

Ia juga menyatakan status darurat di negeri itu kemungkinan akan diangkat pada Minggu (27/10/2019), dengan catatan telah terjadi sejumlah hal yang membuat status tersebut bisa diwujudkan.

Sekadar diketahui, unjuk rasa yang dilakukan lebih dari 1 juta warga Chile tersebut digelar setelah pemerintah memutuskan menaikkan tarif transportasi umum khusus pada jam sibuk sebesar USD1,17 atau sekitar Rp16 ribu. Pada Januari lalu, ongkos transportasi umum setempat juga sudah dinaikkan.

Unjuk rasa itu pun mengundang kericuhan. Akibatnya, setidaknya 18 orang tewas, termasuk balita berumur empat tahun. Sebagian besar korban meninggal akibat terjebak saat menjarah toko yang kemudian dibakar.

Sebastian Pinera pun menetapkan status darurat nasional dan memberlakukan jam malam sejak akhir pekan lalu di Santiago.

Pemerintah juga telah mengerahkan sedikitnya 20 ribu polisi dan tentara untuk meredam kerusuhan, termasuk dengan menggunakan gas air mata dan meriam air ke arah para pedemo.

Hal ini menjadi yang pertama kali terjadi di Chile setelah negara itu kembali menerapkan demokrasi pada 1990, usai melalui fase diktator berdarah selama 17 tahun yang dipimpin Jenderal Augusto Pinochet. Saat itu militer mengkudeta pemerintahan yang dipimpin Salvador Allende pada 11 September 1973.


Komentar

News Feed