oleh

Diduga Dilempari Batu di Lapas Maros, Kasatreskrim Polres Majene dan 2 Anggotanya Dilarikan ke RS

MAROS – Tiga orang anggota kepolisian dari unit Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Majene, Sulawesi Barat, mengalami luka-luka setelah diduga terkena lemparan batu oleh oknum warga binaan di Lapas Kelas II A Maros, Selasa (8/10/2019) sore.

Ketiganya yakni AKP Pandu Arif Setiawan (Kasat Reskrim Polres Majene), Briptu Raja, dan Briptu Mustakim (personel Reskrim Polres Majene).

Akibat insiden tersebut, ketiganya harus dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

“Insiden ini terjadi akibat kesalahpahaman,” kata Kepala Lapas Kelas II A Maros, Indra S Mokoagaw.

Indar menjelaskan, peristiwa ini berawal saat tujuh personel Reskrim Polres Majene berkunjung ke Lapas Kelas II A Maros sekira pukul 15.20 WITA, untuk menyelidiki dan melakukan pengembangan kasus penipuan melalui media sosial, dimana dicurigai kasus penipuan yang mengatasnamakan Kapolres Majene, AKBP Asri Efendi tersebut diotaki oleh seseorang yang merupakan warga binaan di Lapas Kelas II A Maros.

Saat dua orang personel Polres Majene didampingi petugas sipir Lapas (Karupam) melakukan penggeledahan dan mengambil keterangan terhadap warga binaan Lapas Kelas II A Maros yang diduga sebagai pelaku penipuan di dalam blok sel tahanan, anggota Reskrim Polres Majene tersebut disoraki oleh warga binaan. Kasat Reskrim Polres Majene yang berada di luar blok sel Lapas merasa anggotanya disakiti dan mengeluarkan tembakan ke udara, dengan tujuan menyelamatkan anggotanya yang masih berada di dalam blok sel tahanan.

Menurut Indra, situasi di Lapas Kelas II A Maros saat itu memang kurang baik karena sedang krisis air, dan ada orang (warga binaan) yang berteriak. Mendengar suara tembakan, warga binaan yang berada di blok lain merasa terusik dan keluar dari blok sel untuk mendekati sumber suara tembakan tersebut. Ketika beberapa warga binan mencoba mendekat, salah seorang diantaranya terkena gagang senjata petugas.

“Kasatnya langsung keluar, dan di area medium security mengeluarkan tembakan sebanyak dua kali. Mungkin beliau mengira terjadi penyerangan terhadap penyidik di dalam kamar sel. Suara tembakan itu membuat mereka (warga binaan yang lain) terusik dan keluar blok. Saat itu KPLP oknum polisi masuk ke dalam dan terjatuh. Jadi teman kepolisian terluka karena jatuh, dan napi memukul itu tidak ada. Yang ada itu satu narapidana kena pukulan pistol,” jelasnya

Indra mengaku sangat menyangkan terjadinya insiden ini.

“Pertama ada dua dan ditambah empat kali, jadi enam kali tembakan, dan saat itu magrib, sementara salat magrib. Ini karena tembakan, dan mereka (warga binaan) meresa terganggu. Apalagi mereka kan stres karena air tidak mengalir, dan penggunaan (senjata api) di dalam Lapas itu memang dilarang,” ujarnya.

Hingga saat ini, inisden tersebut masih dalam penyelidikan petugas kepolisian guna mencari tahu penyebab sebenarnya.

Komentar

News Feed