oleh

Akibat Demonstrasi Akhir September Lalu, Kontraktor Tol Layang Pettarani Mengaku Rugi Rp10 M

MAKASSAR – PT Wika Beton selaku kontraktor pelaksana pembangunan jalan Tol Layang Pettarani mengaku mengalami kerugian sebesar hingga Rp10 miliar akibat aksi unjuk rasa ribuan mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat pada akhir September lalu, di sekitar lokasi proyek tersebut.

Deputi Project Manajer PT Wika Beton, Emmy Yanuar mengatakan, kerugian tersebut meliputi kerusakan mulai dari pagar proyek, instalasi listrik, bahan material, hingga produktivitas peralatan dan tenaga kerja.

“Sementara ini kerugian akibat demo itu diperkirakan sekitar Rp9-10 miliar. Itu sudah kita masukkan juga dengan perhitungan waktu yang hilang, dimana alat jadi berhenti dan pekerja juga tidak bisa bekerja. Produktivitasnya itu kan kerugian juga,” kata Emmy, Rabu (9/10/2019).

Menurut dia, hal ini sedikit banyak tentu akan berpengaruh pada waktu penyelesaian pekerjaan yang ditarget rampung pada Juli 2020. Olehnya itu, pihaknya saat ini mencoba untuk kembali menata sumberdaya yang ada untuk bisa menutupi waktu pengerjaan yang hilang saat terjadinya aksi demonstrasi akhir September lalu.

“Makanya sekarang kita mencoba untuk kembali menata sumberdaya, dimana akan ada penambahan seperti alat maupun orang (tenaga kerja) supaya bisa mengejar waktu yang hilang kemarin itu,” ujarnya.

Perihal kerugian cukup besar akibat demonstrasi berujung rusuh yang bisa dikategorikan sebagai force majure itu, Emmy mengatakan, meski proyek tersebut diasuransikan, namun pihaknya belum menegetahui secara pasti apakah kondisi itu tercover dalam tanggungan asuransi.

“Memang proyek ini diasuransikan. Tapi ini kan juga akan melihat kalau disebut force majure, apakah termasuk dalam cakupan itu dicover atau tidak. Kami masih blank soal itu. Kalau kenyataanya kan jelas, tapi kan harus ada pernyataan resmi dari pemerintah setempat yang menyatakan bahwa itu memang huru-hara. Kira-kira itu yang coba kita upayakan,” ungkapnya.

Lebih jauh Emmy mengatakan, sejauh ini progress pekerjaan pembangunan jalan Tol Layang Pettarani sepanjang 4,3 km itu sudah berada pada angka 37 persen. Kini pengerjaannya sudah masuk pada tahap upper structure, yakni pemasangan box girder.

“Sekarang itu pengerjaan upper structure, yakni pemasangan box girder. Saat ini, dari 73 bentang, baru sekitar 5 bentang yang terpasang atau masih sekitar 5 persen,” terangnya.

Pemasangan box girder pembangunan Tol Layang Pettarani. (Foto: Sadda/SinarKata)

Meski begitu, lanjut Emmy, untuk material box girder yang akan dipasang, sekarang sudah ada sekitar 1.400-an dari total keseluruhan sekitar 3.000-an yang harus dipasang.

“Material box girdernya itu sekarang sudah ada sekitar 47 persen atau sekitar 1.400-an dari total yang harus dipasang itu sekitar 3.000-an. Kendala ada, tapi tidak signifikan dan hanya hal-hal kecil. Kita tetap menjaga traffic manajemen lalu lintas ini supaya masyarakat tetap bisa beraktifitas. Kita coba mengatur itu, sehingga kita kerja malam lebih banyak,” jelasnya.

Jembatan Flyover Bakal Ditutup Selama 5 Hari

Mulai Kamis (10/10/2019) mendatang, akan dilakukan pemasangan 38 box girder pembangunan jalan Tol Layang Pettarani pada titik tepat di atas Jembatan Flyover di Jalan urip Sumoharjo, Makassar.

Untuk keamanan masyarakat dan pekerja, Jembatan Flyover akan ditutup sementara. Sebagai jalur alternatif, nantinya akan dilakukan rekayasa lalu lintas di sekitar lokasi tersebut.

Manajer Safety dan Traffic Wika Beton, Alex Muhajirin mengatakan, pihak kontraktor pelaksana juga telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait rencana penutupan jalan tersebut.

Berdasarkan perhitungan rencanan kerja, kata dia, pemasangan box girder Tol Layang Pettarani di atas Jembatan Flover akan memakan waktu lima hari.

“Pengerjaan pemasangan box girder di Pier (P) 8 dan 9 yang titiknya tepatnya berada di atas jembatan flyover akan dimulai pada Kamis (10/9/2019) mendatang. Jadi jalan bawah flyover, Kamis malam dilakukan penutupan full menggunakan MCB (moveable concrete barrier),” kata Alex, Selasa (8/10/2019).

Menurut Alex, selama lima hari itu, penutupan jalan di lokasi tersebut tidak akan dilakukan secara full 24 jam, dan tetap akan dibuka pada jam-jam tertentu. Yakni pada pukul 06.00-08.00,12.00-13.00, dan17.00-19.00.

“Jadi tetap akan ada buka-tutup jalan,” ujarnya.

Alex menjelaskan, untuk rekayasa lalu lintas atau pengalihan jalur, nantinya jalur kendaraan di Jalan Urip Sumoharjo dari arah timur menuju ke barat akan diarahkan untuk belok kiri menuju jalan AP Pettarani melewati depan gedung Kejaksaan Tinggi Sulsel dan harus melewati putaran balik (u-turn) yang ada di depan Perumahan The Mutiara.

Untuk jalur sebaliknya (barat ke timur), pengendara harus belok kiri di samping flyover untuk terlebih dahulu masuk ke Tol Reformasi, dan selanjutnya memutar balik pada u-turn di depan Kantor Keuangan Negara.

“Sedangkan untuk pengendara dari jalan AP Pettarani menuju Tol Reformasi ataupun sebaliknya, tetap bisa langsung melewati jalan di bawah Jembatan Flyover,” jelasnya.

Komentar

News Feed